Tanah Papua, Tanah Damai yang Dirindukan oleh orang asli Papua.
Tanah Papua: Tanah Damai Yang Dirindukan
(Sebuah Refleksi Kemiskinan atas-Kehidupan OAP di Tanah Papua)
Oleh: Yohanes W. Petege*)
Sore itu, Jumat, 09/04/2021, Saya bersama Kanda alias Fr, Florentinus Tebay keluar mengankat kaki dari Asrama Yunit, satu (1) Wisma Keuskupan Timika (STFT) Sekolah Tinggi Filsafat Teoligi (stady tour) belajar sambil jalan-jalan pada (petang) sore hari kemudian saya melintasi jalan dan,mulai mengamati dari lorong masuk (STFT) sampai dengan lingkaran Abepura di tepian sepanjang jalan raya sebelah kiri dan kanan saya mengamati
Pertama kali saya mulai mengamati di sepanjang jalan raya areah bagian kira dan, juga kanan adalah Sekelompok mama-mama Papua dari suku Pesisir pantai dan gunung menjulan hasil rempa-rempa dari kebunnya kemudian mama menempati tempat dalam bentuk pondok rumah sangat disanyangkan rusak kaki landasan sudah cukup melapuk tempat duduk sebagai dasar ketabahan pun rusak terlepas habis kemudian sebab utama pelingdungannya daunsen merobek berkeping-kepin hancur tidak bisa menfunsikan-nya lagi sautu hal yang menderita mama papua adalah mama papua dengan menjual hasil rempa-rempa duduk menyandar di atas tempat duduk lantai belepasan bahkan balok terpata-pata dari sore jam 03:00 hingga sampai 05:00 petang menjalan malam ( baca pemerintah Papua).
Mama Papua menjual barang dagangan dalam bentuk berupa rempa-rempa dari hasil kebun oleh karena itu, dalam kebutuhan keluarga bahkan mengingat dengan anak-anaknya sedang dalam jenjangan pendidikan (SD) (SMP) (SMA) (ST) ekonomi sangat minim maka mama Papua lebih tergantung pada kebutuhan dengan hasil kebun bukan dari hasil proktif kimiawi tetapi hasil kebun yang di hasilkan dari tanah papua atas kaiya akan adanya sumber daya allam contohnya sebagai;emas,perak,batu,nikel,minyak,bumi,minya allam bahkan ada beberapa jenis batuanbertumbuh bersama tanah cuci ini, bertumbuh dan berkembang di tanah papua yang menuh ini mengapa saya katakan konfik karena mama-mama papua untuk menjual hasil rempa-rempa dari kebun sangat membutuhan (wadah faktual) tempat yang lebih baik dari yang sebelumnya harmonis sehingga tercipta papua itu damai melalui budaya penjualan hasil rempa-rempa dari kebunnya sendiri oleh sebab itu saya sebagai Mahasiswa Papua (asal uncen Jayapura Papua) meminta kepada (Pemprop)pemerintah propinsi dan,(Pemkab}Pemerinta Kabupaten.
Membangun pasar internal/ pondok yang bisa mencukupi aktivitas dangannya karena ibu-ibu papua merupakan materialime,contoh bagi (OAP) Orang Asli Papua pada sadarnya lapisan masarakat Papua sehingga dua konteks pengembangan penjualan di bahwa dapat terlaksa dengan saksama :
pinang siri kapur dan, ada kue-kue yang berisi dalam keranjang di tamba dengan beberapa sepotongan roti
Ada sekelompok mama lain pula menjual sayur-sayaur dengan berbagai jenis syaur kankun, koll, wortel, kentang dll.
Lanjut baca dengan(mengamati)di dalam haluan langka kaki ku dengan mengingat-ingat hasil pengamatan-pengatan penjualan rempa-rempa dari mama-mama Papua khususnya pesisir pantai dan gunung dalam diriku banyak pertanyaan timbul dengan sendirinya kemudian lanjud, saya bersama Alias Fr, Florentinus Tebay setelah sampai di lingkaran Abepura lanjud mengamati jajaran-jajaran sepanjang jalan raya areah bagian kiri dan pula kanan lebih banyak (Patikalisme) pemengan penguasa yang saya mengajikan sebagai berikut:
ruko-ruko, perhotelan bakan adapula rumah-rumah mewah yang melintasi dipermukaan jalan raya Abepura Jayapura Papua sehingga rumah pribadi dijadikan (apotek) penjualan obat-obatan dan tempat peraktik dokter lanjut apoteker.
A. Apa Itu Tanah
?
Tanah adalah Permukaan bumi dalam bentuk satuan bumi yang memiliki banyak mamfaat dan fungsinya dengan menyelimuti banyak sumber daya kaya akan allam di tanah ini dan, diatas tanah banyak manusia berintekraksi anatara individu dengan invidu lanjut kelompok dengan kelompok berdasarkan satuan aspek sosial sehingga tanah harus di sayang, menjaga,memelihara sampai dunia kita kiamat di sebut (kematian datang menjemput kita) .
Pengertian Tanah Merupakan Mama dan Bapa yang (megelulu) selalu dan selalu di jaga dirawat setiap aspek kehidupan tampa meminta ( kasih agape) yang di sebutkan sebagai kasih tampa pamrri, oleh karena itu dimana kita berintreksi dengan orang-orang
(imikrasi) orang pendatang dan (non imikrasi) Orang Asli Papua menampilkan penghormatan sebagai indentitas jati diri bahwa tanah ialah salah satu sumber daya allam yang memberikan kebutuhan hidup entah itu bentuk berupa barang, bentuk berupa berkat dan lebih teroptimal adalah sumber-sember penghasilan secara (alami) dan (buataan) yaitu;
air, hutang yang berlimpa dan, kaya dengan akan ada kus-kus burung-burung dan, banyak rempa-rermpa berlimpa-berlimpa di atas tanah subur ini.
(dan buatan) merupakan sumber berlimpahan akan adanya hasil perkebunan sepertinya tebu,ubi-ubian,sayur-sayuran,buah-buahan, kela dimenado dan keladi bete kelapa sawit,pinang-pinang siri,kelapabuah bahkan banyak sumber perkebunaan di atas tanah ini. menut materi alkitab Manusia di ciptakan dari tanah dan, akan kembali menajdi tanah, (tanah disebut sebagai ibu pelindung manusia sertra isinya yang masih bersiarah di muka bumi manusia (ovipivar dan omniviora) hewan yang bertelur dan hewan yang mamalia yang bersiarah bersama manusia ( makluk sosial ) pemelliharan hewan-hewan liar maupun non liar .
dengan demikian Tanah sebagai induk (Femali) keluarga maka dari itu dilarang menjual Tanah karena Tanah bagian dari satuan sumber anggota tubuh manusia dan, diciptakan berupa secitra Allah sendiri. untuk itu (meloyalitaskan) mempersatukan diatas Tanah kelahiran kita lanjud belajar simak; barang siapa akan mencintai Tanah ia akan melihat semua permukaan bumi dengan (efektif) jelas bahwa kekayaan yang (external dan internal) luar dan dalam bentuk fisik dan mental karena Tanah bagian jatih leluhur manusiawi.
B. Apa itu Damai ?
Damai adalah Jalan Kebebasan yang terlahir dari bating dan jiwa manusia dalam kontek kekerasan lebih berperan perdamaian khususnya orang-orang yang telah memecakan masalah melalui nilai moral, etika melalui perdamaian sehingga dapat mencapai nilai perdamaian dan, perdamaianitu sendiri tidak terlepas dari sebuah suku bangsa jika seorang pemimpin melahirkan loyalitas persatuan tampa membeda-bedakan sukuisme, marganisme, kampungnisme,religiusme maka lapisan masarakat dalam kondisi keteguhan, harnonisme, dan akan terlahir berpola kasih akan damai bahkan pula di keluarga roh absulut hadir berkembang dan bertumbuh secara diam diri itulah damai.
Menurut iman kristiani damai adalah Jalan kesejatraan roh kudus yang mendiami satu dunia pada dasarnya anggota tubuh manusia sehingga buah-buah roh akan menciptakan sebagai simbol dari damai itu sendiri pertama kasih, sabar, murah hati, rela berkorban,bijaksana,damai, doa dan lain-lain lanjud baca (OAP) Orang Asli Papua dan (NON OAP) Bukan Orang Asli Papua (Imikrasi) harus menyadar luaskan berdasarkan polah-polah pemikiran nilai ketentuan kemanusiaan yang mampu berintekrasi dengan orang lain.
Perlunya mencerminkan damai di tengan-tengan masarakat berbangsa dan bernegara karena jantung, jika tidak mencerminkan damai, nilai damai tetap pada(vakum) kosong dan yang akan timbul peran konfik antara saudara/i di atas Tanah damai ini dan, kadang di sebut sebagai medang konfik mengapa demikian karena di atas Tanah damai peran dingin selalu (mengelulu) bertubi-tubi atas hak dan hakiki untuk mengatasi hal konfik akan damai meski mendamaikan mengadili berdasarkan sumber-sumber kemanusiaan agar dapat terlahir kedamaian (absolut) keabadian lanjud baca(OAP) Orangv Asli Papua.
(OAP) Orang Asli Papua belajar damai mengapa karena Orang Asli Papua senantiasa dalam menjual Tanah banhkan jati diri kemanusiaan sebab damai akan hilang secara turun temurun di Tanah Papua yang penuh dengan medang konfik ini. Damai bukan medan peran keadilan damai bukan keamanan tetapi damai jubi ialah kesejajaran untuk (open yuman ) membuka hak dan kewajiban manusia lanjud baca (OAP dan IMIKRASI) perdamian jangan jadikan wadah jantung penjara untuk Orang Asli Papua dengan kesungguhan orang yang menjaga mencintai damaikan Tanah Papua/ mama perlindung melalui setiap aspek hidup bentuk pormal dan nonpormal kami yang mampu berinteraksi dengan Orang lain perlunya mencerminkan damai di tenga-tengan lapisan masarakat yang absolut sehingga berdasarkan damai absolut dapat mewujudkan damai sebagai nilai moral jika damai itu melihat dengan sebelah mata otomatis akan berbagi arus dan target utuma damai akan adanya sumber daya yang penuh atas berbagai sumber allam Emas,Perak,Nikel, dan beberapa rempa-rempa sendirinya akan pudar di muka bumi papua ini. Damai bukan bedan komfik atau pun keamanan namun damai ialah kejajaran jubi kesejatraan untuk membuka hak dan kewajiban oleh sebuah daerah yang akan mendiami suatu daerah tersebut dan damai jadikan penjara (OAP) Orang Asli Papua.
C. Apa Itu Rindu
?
Rindu adalah Sesuatu nilai unik yang tidak dapat di rabah,di sentu dengan bentuk fisik mengapa karena kerinduan merupakan materi rindu akan menumpuk bentuk target yang sementara dalam proses ketabahan diri seseorang. lanjud baca (OAP) Orang Asli Papua dan (NON OAP) Orang Imigrasi melihat dengan global linkungan yang sedang terjadi seperti exploitasi (SDA) Sumber Daya Allam. Di atas Tanah Papua yang disebut sebagai mama pelindung pun akan hadir arus rindu mengupaya kerinduaan Papua. Karena setiap insan manusia terbentuk dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.
banyak aktifis-aktifis merindukan pembela jubi atas dasar kejadiaan-kejadiaan yang telah melewati bertahun-tahun bahkan bulan minggu dan hari, sehingga berdasarkan ini kita mengkategorikan. Kerinduaan terlunasi sebagaimana melalui alur pembela jubi dan atas asas-asas kemanusiaan di tanah Papua. Maka dari itu, Mengabaikan sebagai salah satu nilai ambisi mengupaya, agar tercipta kerinduaan yang damai.
Orang Asli Papua (Selanjutnya baca OAP), meski menjadi kerinduaa perkembangan eksploitasi sumber daya alam (Selanjutnya baca SDA) di tanah Papua. Karena mengingat dengan kelak atau futur generasi kita tidak ada wadah untuk mencari kebutuhan hidup dan beradaptasi dan pula menyatu dengan sumber daya alam.
Kerinduaan vaksi merupakan kenangan yang terkenal secara turun-temurun, sehingga wadah Papua rindu (Revolusi) berubah rindu tangisan atas kelimpahan akan kaya dengan sumber-sumber daya alam dan yang dapat bernilai ekstrinsik. Dalam bentuk dasar utilitarianisme () di bangun tanpa premis (Alasan) bahwa setiap orang yang sangat menginginkan kebahagiaan rindu yang melebihi yang sepertinya rindu dengan memandangi sumber daya alam.
Sumber daya manusia, yang mengatasi dalam bentuk eksploitasi dan juga kapitalisme sekian tahun berkembang pesat di atas perlindungan mama Papua atau tanah Papua.
D. Bagaimana Saya Menciptakan Tanah Papua Yang Damai
?
Menghidupkan konsentrasi persatuan dan kesatuan untuk mendamaikan tanah Papua ini, agar dapat mencapai cita-cita damai akan Orang Asli Papua. Konsentrasi berarti ambisi atau inisiatif yang lahir dengan sendirinya dan akan terpapar, karena adanya persatuaan dan kesatuaan dalam perlindungan HAM. Sumber Daya Alam, sehingga Damai terlahir di kalangan lapisan masyarakat Pemprov, Pemda (Pemerintah Daerah) Bahkan pedesaan dengan demikian salah satu menuju perdamaiaan dengan adanya mahasiswa dan mahasiswi dan pelajar dapat mengembangkan sesui tupoksi dan kewajiban potensi diri.
Mengapa saya mengatakan, karena memang benar atas vaksinya mahasiswa dan mahasiswi dan pelajar adalah agen revolusi Papua yang Damai dan Sejahtera, Sehingga melalui itu melahirkan secara perlahan-lahan (PaDam) Papua Damai.
Jika kita Diam dan tidak memiliki potensi untuk melaksanakan revolusi Papua Damai berarti orang lain Dari luar Papua yang disebut sebagai imigrasi akan melihat dengan sebelah mata kiri?
Karena dengan melihat kemampuan yang induk berkembang hingga terpatuh pada satu sisi disebut sebagai Vakum (Tertutup).
Maka, Salah satu aspek akan menyombongkan diri di atas negeri kaki telanjang. Sebab, Kita memulai dengan potensi belajar untuk mendamaikan tanah leluhur ini dan salah satunya untuk mencapai perdamaiaan yakni belajar melalui berkonsentrasi, supaya guna mendapatkan sesui ide inisiatif berdasarkan potensi diri kita.
Hampir setiap insan manusia memiliki inisiatif yang ilir sekaligus tajam dalam hal mempedomankan hidup entah bahagia dan tidak dengan dua cara itu memilih untuk pentingnya damai atas alam tanah Papua, sehingga OAP mengelolah dengan sendirinya tanpa meminta kasih herosi.
Kepada siapa pun dia, Karena mencari perdamaiaan mesti berpotensi besar, agar tali perjuangan dapat membangun kedamaiaan dalam bentuk konteks perkembangan dan berdiri kokoh dalam situasi apapun. Maka dari itu, loyalitas perdamaiaan meluluh pada target yang mutlak di mata mama pelindung Papua. Sekaligus kaki telanjang dan kita menyayangi dan hidup atas pundak Mama Papua yang kokoh.
Orang Asli Papua adalah orang-orang yang memiliki jati diri dan identitas, bahkan orang yang berkulit hitam, keriting rambut dan kaya akan sumber daya alam yang mengelilingi tanah Papua atau kaki telanjang. Tidak hanya itu, Orang Asli Papua adalah orang-orang yang memiliki ciri-ciri rambut keriting, berkulit hitam, dan kaya akan sumber daya alam. Mereka (OAP) tinggal di atas tanah Papua. Orang Asli Papua adalah orang yang tinggal di atas tanah Papua. Oleh karena itu, Orang Papua adalah pemilik atas seluruh seluk beluk yang ada di atas tanah Papua.
Dalam kontek inilah, Orang Papua mesti menyadarinya bahwa Orang Papua harus menjaga dan melindungi tanah Papua.
Tanah warisan leluhur orang Papua yang kaya. Orang Papua mesti menjaga tanah Papua dengan cara tidak menjual tanah kepada siapa pun dan kapan pun. Karena secara budaya, Tanah bagi orang Papua adalah Mama bagi OAP dalam kehidupannya di atas tanah Papua.
Kiranya pemerintah daerah dan Gereja di tanah Papua terus menjaga dan melindungi tanah Papua.
Semua ini dapat dilakukan demi penyelamatan bagi seluruh eksistensi (Keberadaan) tanah dan Manisia di atas Papua. Dengan begitu juga, Orang Papua dan Tanah Papua akan mengalami kesejahteraan dan kemakmuran di atas tanah warisan leluhurnya, Tanah Papua, Tanah Penuh susuh dan madu. Orang Papua harus menjadi tuan di atas tanah Papua dan bukan menjadi penonton.
*)Penulis, Adalah, Mahasiswa, Asal Papua, Kulia Di Uncen, Jayapura, Papua.
Komentar
Posting Komentar