kumpulan puisi

             Foto penulis : Yohanes W. Petege

Puisi Hari Noken sedunia

“Hari Noken Sedunia 
“Dunia turut gembira
merayakan  lahirnya jati diri
noken enkau bagaikan memori
noken enkau bayang diri ku”

“aku ter puji enkau pelingdung dunia
aku ber bahagia di sudut kaki jendrawasih
aku ter pesona enkau sebagai lahir bating ku
aku ber tangis kau tercipta di sudut mapiha”

“wahai noken kau unik papua
wahai noken kau warisan ku
wahai noken kau relita setiap isan
wahai noken kau ilmu seni ku”

“selamat noken terpuja dunia
selamat enkau unik dunia
selamat enkau ter cipta karna jati diri ku
selamat enkau ter cipta untuk dunia”

Oleh:  Yohanes W. Petege.



Puisi sahabat kecil ku
,, sahabat sejatih ialah orang 
yang selalau ada di saat senang
maupun susah . dan dia yang membelah
di saat di bully,,

,,sahabat kecil bukang barang yang 
di sewakan bukan orang yang meminjamkan 
namun dia ada di saat kegagalan,,

“materi yang andiwan hebat 
adalah di saat ,andiwan membahwa 
energi baru dalam benaku,,

,,teman akan gembira di saat terjatu,
tetapi sahabat sejati 
tertawa ber ronta ronta 
 di saat terjatu bangung 
akan besama sama ,,

,,sahabat sejatih tak terukur dari lama
namun kejadian yang terjatu dan terbangun 
di saat ke gagalan datang menorpa,, 

Oleh: Weneity Yohanes Petege*) 



Puisi kampung toutopa ku

Kampung halaman tempatku di besarkan
Angin semilir menjadi saksi bisu
Tempat pertama kali aku berjalan
Berdiri di lapangan luas aku membisu

Terasa indah , terpesoda kampaung halamanku
Saat semua mengucapkan selamat
Terpancarku rasa kebahagiaan
Suara terasa keras sangat

Kudambakan semua pertama
Yang menkilau di kejauhan
Terdapat setitik air mata
Membayangkan waktu berjalan

Dapatkah merai impianku
Mencoba meniggalkan kengan indah
Dikampung terperinciku
Terasa sekali hatiku gundah
Wahai pujaan dusunku

Oleh: Weneity Yohanes Petege*)




Puisi kampus 

“Aku adalah aku 
Kampus adalah wadah belajar .
Wahay petunjuk jembatangku
Engkau adalah pelita ku”

“Enkau adalah tekat ku
Enkau seruan pujaan ku
Pesona energi mu 
Aku sangat paradais

Aku terpuji enkau 
Enkau bembisu ku
Bagaikan sinar pagi
Enkau berjiwa ilmu 
Aku terindeksi padamu 

by . Weneity yohanes petege*)



Puisi ayah  ku
Wahay .......... Pahlawan ku
 ijinkan aku tersandar di bahumu 
Meski aku sudah tak kecil lagi 
Berayun di lengan tanganmu yang Kokok

Merasakan hidup yang tak terganggu
Memiliki semua hal hanya dengan 
Berada di pelukanmu
Merasakan terang dunia meski petang 

Telah tibah 
Teduh tawa kau sajikan
Menguatkan kaki tangan tak bertulang
Untuk bankit
Aku mohon selalu keciil agar 

Kau tak menua tua 
Detak jantung penuh semangat 
Bagai kudah 
Kasih setiah bagai setinggi gunung

Ku rindu masa kecil ku mendidik ku
Penuh senyum
Ku ingin mengulangi tawa mu
Ku ingin pelukan mu 
Ku ingin dermaga mu
Ku ingin berkumpul seutuh keluargaku

By, Weneity Yohanes Petege *)


Puisi debigeku 
Wahay pujaan seruai ku
Enkau terbentang luas
Enkau menjulan tinggi 
Enkau mutiara ku

Debigeku ku terpuja 
Debigeku ku terharu
Debigeku ku terpana 
Debigeku ku termenu

Aku merindu setinggi senjamu
Aku ingin terpulan dengan pesanmu 
Aku termani kenangan mu
Aku ingin terletak jejakku 

Sudut setinggi merantau 
Sudut aku menonjol butiran 
Sudut merinti impian 
Sudut ku krim rinduku”

By, Weneity Yohanes Petege*) 


Puisi tanah papua

Wahay ......... Negeriku 
Aku terpesona keriting ku  
Aku terbangga tumpa dara ku
Aku terharu keindah mu 

Disana terlimpa emas 
Disana ter dengar suara merdu
Disana ter hias jenderawasih 
Disana enkau bagaikan jakrawalah 

Enkau negriku permaisuri 
Enkau terlimpa banyak  kekayaan
Enkau surga kecil yang tersembunyi 
Enkau negeri ku terpujaan

Terimakasih negeri ku
Terimakasih allam ku
Terimaksih keriting ku
Terimaksih tuhan ku

PUISI
“Hari Noken Sedunia 
“Dunia turut gembira
merayakan  lahirnya jati diri
noken enkau bagaikan memori
noken enkau bayang diri ku”

“aku ter puji enkau pelingdung dunia
aku ber bahagia di sudut kaki jendrawasih
aku ter pesona enkau sebagai lahir bating ku
aku ber tangis kau tercipta di sudut mapiha”

“wahai noken kau unik papua
wahai noken kau warisan ku
wahai noken kau relita setiap isan
wahai noken kau ilmu seni ku”

“selamat noken terpuja dunia
selamat enkau unik dunia
selamat enkau ter cipta karna jati diri ku
selamat enkau ter cipta untuk dunia”

By, Yohanes W. Petege.


Puisi sahabat kecil ku

,, sahabat sejatih ialah orang 
yang selalau ada di saat senang
maupun susah . dan dia yang membelah
di saat di bully,,

,,sahabat kecil bukang barang yang 
di sewakan bukan orang yang meminjamkan 
namun dia ada di saat kegagalan,,

“materi yang andiwan hebat 
adalah di saat ,andiwan membahwa 
energi baru dalam benaku,,

,,teman akan gembira di saat terjatu,
tetapi sahabat sejati 
tertawa    di saat terjatu bangung 
akan besama sama ,,

,,sahabat sejatih tak terukur dari lama
namun kejadian yang terjatu dan terbangun 
di saat ke gagalan datang menorpa,, 

BY,Weneity Yohanes Petege*) 



Puisi kampung toutopa ku

Kampung halaman tempatku di besarkan
Angin semilir menjadi saksi bisu
Tempat pertama kali aku berjalan
Berdiri di lapangan luas aku membisu

Terasa indah , terpesoda kampaung halamanku
Saat semua mengucapkan selamat
Terpancarku rasa kebahagiaan
Suara terasa keras sangat

Kudambakan semua pertama
Yang menkilau di kejauhan
Terdapat setitik air mata
Membayangkan waktu berjalan

Dapatkah merai impianku
Mencoba meniggalkan kengan indah
Dikampung terperinciku
Terasa sekali hatiku gundah
Wahai pujaan dusunku

By . Weneity Yohanes Petege*)




Puisi kampus 

“Aku adalah aku 
Kampus adalah wadah belajar .
Wahay petunjuk jembatangku
Engkau adalah pelita ku”

“Enkau adalah tekat ku
Enkau seruan pujaan ku
Pesona energi mu 
Aku sangat paradais

Aku terpuji enkau 
Enkau bembisu ku
Bagaikan sinar pagi
Enkau berjiwa ilmu 
Aku terindeksi padamu 

by . Weneity yohanes petege*)







Puisi ayah  ku

"Wahay .......... Pahlawan ku
 ijinkan aku tersandar di bahumu 
Meski aku sudah tak kecil lagi 
Berayun di lengan tanganmu yang Kokok

Merasakan hidup yang tak terganggu
Memiliki semua hal hanya dengan 
Berada di pelukanmu
Merasakan terang dunia meski petang 
Telah tibah 

Teduh tawa kau sajikan
Menguatkan kaki tangan tak bertulang
Untuk bankit
Aku mohon selalu keciil agar 
Kau tak menua tua 

Detak jantung penuh semangat 
Bagai kudah 
Kasih setiah bagai setinggi gunung
Ku rindu masa kecil ku mendidik ku
Penuh senyum

Ku ingin mengulangi tawa mu
Ku ingin pelukan mu 
Ku ingin dermaga mu
Ku ingin berkumpul seutuh keluargaku

By, Weneity Yohanes Petege *)


Puisi debigeku 
Wahay pujaan seruai ku
Enkau terbentang luas
Enkau menjulan tinggi 
Enkau mutiara ku

Debigeku ku terpuja 
Debigeku ku terharu
Debigeku ku terpana 
Debigeku ku termenu

Aku merindu setinggi senjamu
Aku ingin terpulan dengan pesanmu 
Aku termani kenangan mu
Aku ingin terletak jejakku 

Sudut setinggi merantau 
Sudut aku menonjol butiran 
Sudut merinti impian 
Sudut ku krim rinduku”

By, Weneity Yohanes Petege*) 



Puisi tanah papua

Wahay ......... Negeriku 
Aku terpesona keriting ku  
Aku terbangga tumpa dara ku
Aku terharu keindah mu 

Disana terlimpa emas 
Disana ter dengar suara merdu
Disana ter hias jenderawasih 
Disana enkau bagaikan jakrawalah 

Enkau negriku permaisuri 
Enkau terlimpa banyak  kekayaan
Enkau surga kecil yang tersembunyi 
Enkau negeri ku terpujaan

Terimakasih negeri ku
Terimakasih allam ku
Terimaksih keriting ku
Terimaksih tuhan ku

By, Weneity Yohanes Petege*



Puisi bungah desa

“Wahay ..... bunganku
engkau dermaga ditepi sudut laut fasifik
aku ingin berjubi lensunmu
aku ingin mewarnai selengdangmu”

“betapa indah makotanya
betapa indah caklirnya
engkau kulir diriku
engkau perih pelitaku”

wahay desa rosari 
haway putri dermawan
injinkan kriked serdadu talimu
ijinkan rantingku mengoresmu

ulurkan mejadi pahlawan desanya
ulurkan putik menyatuh buahku
ternyata kau yang datang di malam 
ternyata kau yang pergi entah kemana

By, Weneity Yohanes Petege*)


Puisi  ibuku

“Wahay...... Malaikatku
Ijinkanku terbaring di pahannya 
Meski aku bukan kecil lagi 
Inginnya merayung di lengan yang koko

“Kerinduanku melulu mengalir 
Bagaikan anak sungai yang mesti tak ada batas
Aku ingin gramar seperti duluh lagi
Malaikatku momen di hari kuno” 

“Aku ingin menjadikan modern 
Hati mempilu saat ku menatap
Jiwa melulu di waktu melihat ilustrasinya
Faksinya aku doakan budah” 

“Cintaku padamu tak terhitun busur hujan
Cintamu membuat hidupku musyawarah 
Malaikat tampa bersayap aku berkenan selalu
Malaikat pertarongan jiwamu ku tak 
akan pernah lupa hingga futur

By, Weneity Yohanes Petege*) 




Puisi Pena

“Wahay ana busur 
Eengkau berdiri di tepian malam itu
Engkau becondong di waktu menyair
Aku sunggu jatuh cinta padamu
Aku ingin menjadi pelurumu

Wahay pena lapormasi 
Mauhka pelamar terluluku
Aku gelap ketika kau pergi
Aku ingin menjadi pertama darimu

Indahnya warna cairannya 
Barinsan warna sunggu terkala selendang bidadari
Stik coretan aku terharuh 
Stik kiasan tinta aku terbunuh

Ijinkan aku futurkan kelak
Ijinkan aku melulu coretan diatas lembar putih
Inginnya aku jondonkannya dalam saran
Tampamu aku durasi bagaikan gelap tampa bintang 

BY, Weneity Yohanes Petege*)





Puisi jejak masih membekas

“Tatapan pertama tercipta seribu pertanyaan
Inginku menyatu dengan sudut tatapan 
Kehadirannya membuat hati bertanya
Kehadirannya membuat ketenangan jiwaku”

“Indah cermin wajah sunggu ku terpesona
Indahnya pertemuan ilusi 
Kata-katamu membuat dunia berwarna
Kata-katamu membuat harapan ku hidup”

“Ketukan cinta kau menangkawikan
Ketukan cinta kau membuat sunggu tangga nada 
Seakan suaramu memanggil ketiduran jam 
Seakan jam jarum kau menghilankan dengan keasmaraan cinta” 


“Dimalam kau berjondong tampa hampa cakrawala
Dimalam kau sunggu sanggup menciptakan sebuah bintang 
Itukha sudut pandan kutikan cinta 
Dan dimalam itu pula tangga cinta kau delete kan 
Dan kiasan alur kini masih membekas

By, Weneity Yohanes Petege*)



Puisi Teman

Wahay.......... Teman 
Carilah ilmu sebanyak-banyaknya 
Dan tiada hampa capai cita-citamu
perjuangan hidup dengan ilmu
Belajarlah dengan sunggu-sunggu” 

“Hadapilah tantangan yang menorpa
Jadikan dirinya seperti bintang
Kejarlah mimpimu diatas awan
Sampai kau temui sapa dirinya”

“Percayalah Tuhan slalu ada 
Tetap berjuang jangan menyerah
Hiduplah bagaiakan tower jalan
Berdiri jadikan jendelah dunia
Agar terwujut cita-citanya

By, Weneity Yohanes Petege*)


Puisi Buku

“Wahay......... Buku ku
Engkau pelindung dunia 
Engkau jendela dunia
Aku sunggu kagumi dengannya”

“Aku sunggu terpesona alirangnya
Aku Sunggu paradais coretannya
Sunggu kau pelita hidupku
Sunggu tampamu aku hilan jejak

  “Tampamu aku buta 
Tampamu aku seperti menalu
Kau teran dunia 
Dan kau pula jatung dunia”

“Dunia tampumu  rapuh 
Dunia tampamu kegelisaan jalan
Jalan berliku-liku tampamu
Jalan jendelah dunia jurang tampamu”

By, Weneity Yohanes Petege*)




Puisi Ulan Tahun

“Dihari ini satu dunia bergembira 
 aku tak lupa  mengucapakan selamat ulan tahun
Aku tak lupa menkagumi hariku
Sunggu luar biasanya karunia tuhan” 

“Terimakasih Ya Tuhan ku
Terimakash Ya Ibu ku
Terimakasih Ya bapa ku
Dengan semua pergumulaan aku tak lupa
 bemuji memulian namanya”

“Aneka ragam bertamba usia 
Sujut berterimakasih kepadaku
Hadapilah rintangan yang ada 
Jaidikanlah rintangan sebuah materi”

“Penambahan usia ini membuatnya dewasa
Dengan penambahan usia dapat menjadi tombak utama
dengan penambahan usia dapat mengandalkan Tuhan 
Dengan penambahan usia dapat menamba pendidikan 
Dan dapat merevolusi etika” 

By, Weneity Yohanes Petege*)


Puisi Rindu

“Rindu dan Rindu memaksa
Disana rumah ku berdiri 
Aku rindu pulan dengan berjuta cita-cita
Rindu aku memeluk aliran sungai”

“Disana gunung terbentang penuh allam khas
Rindu menginjak kebali gunung tinggi itu
Hari-Hari ku mengim rindu berbincang dengannya
Bulan dan hari datang menitip rindu

Seketika rindu datang menyiksa 
Hati terluka datangnya rindu 
Mesti aku berdiri entah rindu memaksa 
Diri ku trus mengalir rindu arus pun kian hampa

Rindu kau mengobati ku 
Rindu kau pun pelindung ku
Rindu kau benar 
Rindu engkau sandiwaraku

By, Weneity Yohanes Peteg*)
 



puisi cinta pertama
wahay............
bunga desa ku
kau pelita pertama menerangi ku
aku berjumpa hati terpesona
aku terkejut memandang mu

kau jiwa irama ku
kau butiran senja ku
kau pujaan peharu ku
kau seindah cendrawasih

terimakasih kau idaman
terimakasih kau  perna hadir
terimakasih kau pujan cinta
terimakasih kau datang mengajari arti cinta


By, Weneity Yohanes Petege*)









Puisi merayakan kata maaf

“ketika aku berkarya enkau datang maaf
di saat aku ber bicara
kau diam maaf
datang larut pahir
kau merayakan cinta” 

“ketika ku menyatu
kau meminta tidak maaf
lembar love ku lampir
kau pudarkan”

“di waktu ku merayakan cinta
ternyata ku tertusuk
enkau datang ketika ku bersedih
pergi belakangan”



By, Weneity Yohanes Petege*)









Puisi CINTA TITIPAN

 “Berawal mengenal enkau indahnya 
Terkalah dari senja 
Yang aku jumpai di petang itu .
Dan setiap aku kesepian titipan rindumu”

 “Datang menorpa ragaku 
Seakan ku rasa indah 
Sandiwara cinta namun
Enta kenapa begitu cepat pudar”
 
“Dan kini cinta itu hanyalah titipan lewatku
Untuk dia pada saat itu pula
Aku tersandar dan belajar
 Apa itu cinta titipan”
 
“Cinta titipan adalah menjaga dia yang datang
 Mengambil pemilik hatinya 
Untuk mewarnai harapan dia
 Bukan saya atau pun mereka”

“Pesan ku jagan datangkan cintamu dari mata
tetapi datangkan dari hati nuranimu
Aku adalah pemengan warna
Aku adalah aku yang penuh konse dimatamu”

By, WENEITI YOHANES PETEGE*)

Puisi Alasan Kerudun Coklat

“ Wahay kau yang aku bangga
ingatkha kau menetipkan cinta kepadaku
Inggatkah kau memanggil i love magapai 
Kapankha kau merenung dengan semua moment itu”

“ Tidak salahkha aku mendengar kerudun coklat 
Bunga mapia yang aku bangga benarkha kau menerima 
Bungan desa mapia apakha kerudun alasannya
Jujur aku masih menanti dan menungggu bersama simbolnya”

“Wahay kau alur putik yang aku sulit menjelaskan
Wahay  kau yang aku sulit mewarnai 
Jujur aku belum percaya kebaya putiih mu
Jujur aku masih belum ijinkan kau pergi”

“ Kapankha kau hidupkan  lampu redup 
Kapan kau datang salam jika  benar kebaya alsannya
Ijinkan aku mencium aroma-aroma kebaya putih 
Ijnkalah aku melihat kebaya itu 
Jikalau orang berdosa pandang melihat” 
T............ I .........
By, Weneity Yohanes Petege*)

Puisi Allam Mapia 

“Wahay kaki allam.... Mapia
Disana engkau terbentan penuh allam khas
Aku sunggu terpekul karena indahnya
Aku sunggu berparadais dengan senuyumannya”

“Indahnya aku berdiri di ujung mapai
Aku membisu akan pengunungannya
Aku terpesona tempat kelahiranku
Disana tempat pertama aku berjalan”

“Aku dambakan engkau selalu 
Suara angin semilir aku menyalamkan
Terasa sekali hatiku gunda 
Terasa sekali di saat menempu haluan ku”

“Deras bunyian sungai mapia membuat diriku semangat
Deras sungai-sungai membuat jalan pendidikan ku membangun
Aku ingin kembali cepat mapiaku
Aku  ingin berbincang di saat aku menumpu impianku”

BY, YOHANES W. PETEGE*)



Puisi Merantau

“Mencari ilmu di negeri orang
Aku berdiri depan pintu gerbang nun pendidikan 
Aku membisu angin semilir membujuk ilmu negeri orang
Berdiri dan menahan lapar karena ilmu”

“Angin sepoii poii menampar aikiku
Angin seminilir membujuk siang ku tidur
Hujan datang membangun tidurku
Hujan datang membangun notasi belajar belajar”

“Hari-Hariku terasa indah dengan ujian ujian hapan 
Setiap lanka kakiku menulusuri lembar bukuku
Setiap harapan tekuk terget harapanku
Jujur aku akan kembali bersama sejuta harapan impianku”


BY, WENEITI YOHANES PETEGE*)






Puisi Bintang 

“Indahnya kau penerangi cakrawalah
Diriku ingin menembus titik titik salahku
Diriku ingin bercerita dengan indanya pelangi bintang
Ijinkan diriku menerangi jiwanku”

Pesona hatiku memandangi lilitang selendangnya
Kedipan iramamu membuatnya diriku merenung
Kedipan matamu membuat diriku salah melangka
Keilirnya membuat dunia getar tak terdiam 

“Sunggu keindahanya membuat insani manusia 
Bersadar diri pada sudut cerita tuhan 
Aku meyakini kau titipan saksi dari Allah 
Aku meyakini kau wujud malaikat berdiam” 

“Kesalutan diriku sunggu kau memana
Kesalutan diriku kau masih menerangi 
Insani yang bernoda ini
Aku hadapi sunggu kau menjadi pelindung dunia”

BY, WENEITI YOHANES PETEGE*)



Puisi Dimana Obat Penyembu

“ Terluka parah sulit mencari obat penyembuh 
Dimana pemilik obat aku masih mencarinya
Dimana kau mendiami dunia 
Dan diamana kau memiliki dunia lain”

“Aku sangat sesali buah jantung tak tertolong 
Entah kemana kau beradah kantung obatku
Di setiap jarum jam seakan aku bedara vakum
Di setiap menit jiwaku memanggil mu”

“Wahay obat penyembuh buah jantung 
Ruang aku terbaring penuh kesakitan 
Aku mengobati sunggu tak serasi obatnya
Kemerahan luka diriku ingin menyembukan”

“Sesosok obat itu belum pula ku dapat
Hukumlah aku jika meman luka itu benar 
Rintangan kegulungan kesakitan tak terbatasi
Luka menuggu sembuh mesti tak bersama pula”

By, weneiti Yohanes Petege *)


Puisi intonasi

 Tangga intonasimu membuat badangku berdiri
Tangga intonasinya membuat diriku menahan seribuh tahun
Setiap intonasi kau membuat dunia tak berdosa 
Setiap nada kau membuat lelaki itu tak tertidur”

“Aliran merdu seakan kau menjubi diriku
Aliran merdu seakan jubiku salah
Benarkha kau artis itu 
Ternyata kau membujuk dunia hilan kemalaman”
 Sunggu aliran intonasimu membuat diriku sulit melangka
Seakan diriku yang bertanya seberapa harga intonasi
Dan sebarapa iliran yang dapat ku bisa dapat 
Namun ternyata suara itu besifat pelingdung 
 Siapa pelindung itu
Siapa binkai alirang itu
Boleh aku berntanya siapa pelindungnya
ijinkan aku melihat binkai alirang suarah mu
 Meskipun aku bukan penlindung sukmamu
Meskipun aku bukan binkai yang kau silipkan
Jikalau menan di binkai insanimu 
Jikalau meman ia pelindung sukma 
Buanglah diriku pada letak yang sulit di jauhkan olehnya

By, Weneity Yohanes Petege*)
Puisi Diriku yang terbuang 

 Wahay kau sukma pribadi..........
Seindah itu kau membuang karena?
Seindah itu aku melayang di telapak dada 
Dan sepucuk tunas kau pun patakan karena dia

Kebuanganku membuat dirinya sunggu berdurasi
Kebuanganku membuat hari-harimu terasa gembilan
Itukah budi bagimu untukku
Itukah nilai etika bagimu untukku

Jujur diriku jajarkan satu bait kata untukmu kau yang terindah
Jujur diriku alurkan jalan bukan kebetulan
Namun kau nyatakan itu kebetulan baginya 
Namun Kau pun katakan padaku dirimu bukan sukmaku

Aku nyatakan doa di saat kau buangku
Tuhan ampunilah kesalahan padanya
Karena ia tak tahu apa yang ia lakukan padaku
Dan ternyata kau di budak olehnya” 
“Maafkan diriku yang terbuang 
Maafkan diriku yang hampa 
Mengapa kau mengesali di waktu ia pergi meninggalnya
Mengapa kau mengakui aku salah maaf kau tidak salah 
Dan maaf diriku bukan bercabang untuk menerimanya ke 2 kali

By, Weneity Yohanes Petege*)
Puisi  Papua Surga yang terlantar 

 Wahay......?
“Surga ku yang terlantar 
Kapankah kau akan sembuh 
Dan kapan pula kau berhenti mengalirkan ketindasan 


Tangisan silih berganti tak puas dirimu
Intimidasi ham dimana-mana terlahir 
Dimana keadilan dan;
Dimana keberannya 

Jujur aku bersuarah pada kau gadis jawa
Kau datang mintidasi lantaran papua 
dan kau berlari menhilang hay kau gadis jawa
Bersuarah jika kau lelaki perkakas hay pengejut 

Bilogai Menangis duka hari ke 17 kau gadis jawa membisu
paniai menagis darah hari ke 8 kau kuburkan dirinya 
Keamanan dimana mata hati papua 
Keamanan dimana pintu keluar massipil 


By, Weneity Yohanes Petege*)

Puisi Kehilangan 

 Hay...../...silam.....
“Hari-hari terasa indah seakan jiwaku memanggilnya
Dengan pemanggilan ini membuat kau layu bagaikan putri malu
Apa yang membuat dirimu gelisah 
Apa yang kau pandangi di belakangan diriku” 

Elok dirinya sulit ku merefisikan
Alur kepolotan mula-mata kian menyepit dan;
Ketika aku menatap dalam dirinya sukma sulit kau kendalikan
Rontakan dadaku menatap sukmamu tumbuh bertunas

Aku menyelidiki sukmanya yang bertunas 
Semata yang berbaris alis kini bergerak 
Alis mata mulai rontakan bahwa 
kau adalah apa yang saya ingin meniggalmu
Tampa pamitan dan menghilangan dengan setunas itu



By, Weneity Yohanes Petege *)
 


Puisi Seluring selam 
“Dihari itu diriku sedang menyair sebuah selaman
Petang kini datang membujuk menyisip atbutku
Sukma sekan menjadi naliru keiluan
Tengah petang melintasi tanah dan terdengar aliran kutipan”

“Kutipan instrumen merosot daung telingahku
Instrumen kutipan hadir bersama jiwa sukma 
Insrumen memanggil dan memkasa diriku melapisi tempak hatiku
Mengapa tembok jiwa sukma lintasi berosot” 
“Sunggu setiap aliran logis menyiksa melangka 
Sunggu diriku tak tertahan lagi bersama penyiksaan
Dengan penyiksaan diriku mengatur alur 

Kedengaran insrumen masih dalam ruang sukma” 
“Dini tiba dirku melanka mencari detak insrumen 
Yang seakan tak ada hambatan redup memanggilku
langka melangka nama selam danampar wajah
Selam yang ku sebut namamu marta 
Menatap insrument itu ternyata rumah buatan jerman 
Datang menjemputkju dengan pengijin olehnya kini 
Kusebut hay pujaan sukma marta”

By. Yohanes W. Petege


Puisi Papua Terbaru 

Pemandangan yang indah suasana di benuah papua baru
Mengkagumkanku dengan tatapan yang indah 
Sudut langka ku terpesona papua baru 
Indahnya allam sunggu aku memukau”

Hadirmu membuat semua belarti 
Sebagai bukti perjuangan 
Anak negeri kaki telanjang
Bait rindu seakan berpanduan

Allam semesta menah rinduku
Anak negeri dada kosong 
memangku-mangku tak risau
Papua baru membuka bibir 

Kemanisan senuyuman bagaikan 
duluh aku memandu 
higga sekarang bait geberlang 
Nyata dengan bukanya dua belas senyuman 
Yang bergaur-gaur papua baru

BY: Yohanes W. Petege


Puisi Senja di malam hari

Malam ini hujan turun dengan deras
senja begitu cepat menyebar 
Angin berembus dengan begitu cepat 
waktu aku keluar melihat senja telah tiada 

Aku memandangi di langit yang biru 
Terdapat kedua kunang,, yang membuat ku mencilip mata
setelah itu aku memandangi sepasang senaja
senja yang sangat inda seperti,

Seindah buangah taman yang penuh bakau riu
Senja itu lelbih indah daripada sinar bulan,
dan kunang-kunang
Saat aku melenyap pula sinar senja masih dalam pencaran 
dan diriku masih dalam keterangan seidah senja itu

Hari telah pagi 
ku buka pintu dan jendela
Senja itupun telah hilang dan pudar bersama arus cantiknya
Hanya tertinggal bekashi senja dan ilustrasi samutra

BY: Yohanes W. Petege






Puisi bungah desa

“Wahay ..... bunganku
engkau dermaga ditepi sudut laut fasifik
aku ingin berjubi lensunmu
aku ingin mewarnai selengdangmu”

“betapa indah makotanya
betapa indah caklirnya
engkau kulir diriku
engkau perih pelitaku”

wahay desa rosari 
haway putri dermawan
injinkan kriked serdadu talimu
ijinkan rantingku mengoresmu

ulurkan mejadi pahlawan desanya
ulurkan putik menyatuh buahku
ternyata kau yang datang di malam 
ternyata kau yang pergi entah kemana

By, Weneity Yohanes Petege*)



Puisi Ibu-ku
“Wahay...... Malaikatku
Ijinkanku terbaring di pahannya 
Meski aku bukan kecil lagi 
Inginnya merayung di lengan yang koko

“Kerinduanku melulu mengalir 
Bagaikan anak sungai yang mesti tak ada batas
Aku ingin gramar seperti duluh lagi
Malaikatku momen di hari kuno” 

“Aku ingin menjadikan modern 
Hati mempilu saat ku menatap
Jiwa melulu di waktu melihat ilustrasinya
Faksinya aku doakan budah” 

“Cintaku padamu tak terhitun busur hujan
Cintamu membuat hidupku musyawarah 
Malaikat tampa bersayap aku berkenan selalu
Malaikat pertarongan jiwamu ku tak 
akan pernah lupa hingga futur

By, Weneity Yohanes Petege*) 




Puisi Pena
“Wahay ana busur 
Eengkau berdiri di tepian malam itu
Engkau becondong di waktu menyair
Aku sunggu jatuh cinta padamu
Aku ingin menjadi pelurumu

Wahay pena lapormasi 
Mauhka pelamar terluluku
Aku gelap ketika kau pergi
Aku ingin menjadi pertama darimu

Indahnya warna cairannya 
Barinsan warna sunggu terkala selendang bidadari
Stik coretan aku terharuh 
Stik kiasan tinta aku terbunuh

Ijinkan aku futurkan kelak
Ijinkan aku melulu coretan diatas lembar putih
Inginnya aku jondonkannya dalam saran
Tampamu aku durasi bagaikan gelap tampa bintang 

BY, Weneity Yohanes Petege*)





Puisi jejak masih membekas

“Tatapan pertama tercipta seribu pertanyaan
Inginku menyatu dengan sudut tatapan 
Kehadirannya membuat hati bertanya
Kehadirannya membuat ketenangan jiwaku”

“Indah cermin wajah sunggu ku terpesona
Indahnya pertemuan ilusi 
Kata-katamu membuat dunia berwarna
Kata-katamu membuat harapan ku hidup”

“Ketukan cinta kau menangkawikan
Ketukan cinta kau membuat sunggu tangga nada 
Seakan suaramu memanggil ketiduran jam 
Seakan jam jarum kau menghilankan dengan keasmaraan cinta” 


“Dimalam kau berjondong tampa hampa cakrawala
Dimalam kau sunggu sanggup menciptakan sebuah bintang 
Itukha sudut pandan kutikan cinta 
Dan dimalam itu pula tangga cinta kau delete kan 
Dan kiasan alur kini masih membekas

By, Weneity Yohanes Petege*)



Puisi Teman

“Wahay.......... Teman 
Carilah ilmu sebanyak-banyaknya 
Dan tiada hampa capai cita-citamu
perjuangan hidup dengan ilmu
Belajarlah dengan sunggu-sunggu” 

“Hadapilah tantangan yang menorpa
Jadikan dirinya seperti bintang
Kejarlah mimpimu diatas awan
Sampai kau temui sapa dirinya”

“Percayalah Tuhan slalu ada 
Tetap berjuang jangan menyerah
Hiduplah bagaiakan tower jalan
Berdiri jadikan jendelah dunia
Agar terwujut cita-citanya

By, Weneity Yohanes Petege*)







Puisi Buku

“Wahay......... Buku ku
Engkau pelindung dunia 
Engkau jendela dunia
Aku sunggu kagumi dengannya”

“Aku sunggu terpesona alirangnya
Aku Sunggu paradais coretannya
Sunggu kau pelita hidupku
Sunggu tampamu aku hilan jejak

  “Tampamu aku buta 
Tampamu aku seperti menalu
Kau teran dunia 
Dan kau pula jatung dunia”

“Dunia tampumu  rapuh 
Dunia tampamu kegelisaan jalan
Jalan berliku-liku tampamu
Jalan jendelah dunia jurang tampamu”

By, Weneity Yohanes Petege*)




Puisi Ulan Tahun

“Dihari ini satu dunia bergembira 
 aku tak lupa  mengucapakan selamat ulan tahun
Aku tak lupa menkagumi harimu
Sunggu luar biasanya karunia tuhan” 

“Terimakasih Ya Tuhan ku
Terimakash Ya Ibu ku
Terimakasih Ya bapa ku
Dengan semua pergumulaan aku tak lupa
 bemuji memulian namanya”

“Aneka ragam bertamba usia 
Sujut berterimakasih kepadaku
Hadapilah rintangan yang ada 
Jaidikanlah rintangan sebuah materi”

“Penambahan usia ini membuatnya dewasa
Dengan penambahan usia dapat menjadi tombak utama
dengan penambahan usia dapat mengandalkan Tuhan 
Dengan penambahan usia dapat menamba pendidikan 
Dan dapat merevolusi etika” 

By, Weneity Yohanes Petege*)


Puisi Rindu

“Rindu dan Rindu memaksa
Disana rumah ku berdiri 
Aku rindu pulan dengan berjuta cita-cita
Rindu aku memeluk aliran sungai”

“Disana gunung terbentang penuh allam khas
Rindu menginjak kebali gunung tinggi itu
Hari-Hari ku mengim rindu berbincang dengannya
Bulan dan hari datang menitip rindu

Seketika rindu datang menyiksa 
Hati terluka datangnya rindu 
Mesti aku berdiri entah rindu memaksa 
Diri ku trus mengalir rindu arus pun kian hampa

Rindu kau mengobati ku 
Rindu kau pun pelindung ku
Rindu kau benar 
Rindu engkau sandiwaraku

By, Weneity Yohanes Peteg*)
 



puisi cinta pertama
wahay............
bunga desa ku
kau pelita pertama menerangi ku
aku berjumpa hati terpesona
aku terkejut memandang mu

kau jiwa irama ku
kau butiran senja ku
kau pujaan peharu ku
kau seindah cendrawasih

terimakasih kau idaman
terimakasih kau  perna hadir
terimakasih kau pujan cinta
terimakasih kau datang mengajari arti cinta


By, Weneity Yohanes Petege*)









Puisi merayakan kata maaf

“ketika aku berkarya enkau datang maaf
di saat aku ber bicara
kau diam maaf
datang larut pahir
kau merayakan cinta” 

“ketika ku menyatu
kau meminta tidak maaf
lembar love ku lampir
kau pudarkan”

“di waktu ku merayakan cinta
ternyata ku tertusuk
enkau datang ketika ku bersedih
pergi belakangan”



By, Weneity Yohanes Petege*)









Puisi CINTA TITIPAN

 “Berawal mengenal enkau indahnya 
Terkalah dari senja 
Yang aku jumpai di petang itu .
Dan setiap aku kesepian titipan rindumu”

 “Datang menorpa ragaku 
Seakan ku rasa indah 
Sandiwara cinta namun
Enta kenapa begitu cepat pudar”
 
“Dan kini cinta itu hanyalah titipan lewatku
Untuk dia pada saat itu pula
Aku tersandar dan belajar
 Apa itu cinta titipan”
 
“Cinta titipan adalah menjaga dia yang datang
 Mengambil pemilik hatinya 
Untuk mewarnai harapan dia
 Bukan saya atau pun mereka”

“Pesan ku jagan datangkan cintamu dari mata
tetapi datangkan dari hati nuranimu
Aku adalah pemengan warna
Aku adalah aku yang penuh konse dimatamu”

By, WENEITI YOHANES PETEGE*)

Puisi Alasan Kerudun Coklat

“ Wahay kau yang aku bangga
ingatkha kau menetipkan cinta kepadaku
Inggatkah kau memanggil i love magapai 
Kapankha kau merenung dengan semua moment itu”

“ Tidak salahkha aku mendengar kerudun coklat 
Bunga mapia yang aku bangga benarkha kau menerima 
Bungan desa mapia apakha kerudun alasannya
Jujur aku masih menanti dan menungggu bersama simbolnya”

“Wahay kau alur putik yang aku sulit menjelaskan
Wahay  kau yang aku sulit mewarnai 
Jujur aku belum percaya kebaya putiih mu
Jujur aku masih belum ijinkan kau pergi”

“ Kapankha kau hidupkan  lampu redup 
Kapan kau datang salam jika  benar kebaya alsannya
Ijinkan aku mencium aroma-aroma kebaya putih 
Ijnkalah aku melihat kebaya itu 
Jikalau orang berdosa pandang melihat” 
T............ I .........
By, Weneity Yohanes Petege*)


Puisi Allam Mapia 

“Wahay kaki allam.... Mapia
Disana engkau terbentan penuh allam khas
Aku sunggu terpekul karena indahnya
Aku sunggu berparadais dengan senuyumannya”

“Indahnya aku berdiri di ujung mapai
Aku membisu akan pengunungannya
Aku terpesona tempat kelahiranku
Disana tempat pertama aku berjalan”

“Aku dambakan engkau selalu 
Suara angin semilir aku menyalamkan
Terasa sekali hatiku gunda 
Terasa sekali di saat menempu haluan ku”

“Deras bunyian sungai mapia membuat diriku semangat
Deras sungai-sungai membuat jalan pendidikan ku membangun
Aku ingin kembali cepat mapiaku
Aku  ingin berbincang di saat aku menumpu impianku”

BY, YOHANES W. PETEGE*)



Puisi Merantau

“Mencari ilmu di negeri orang
Aku berdiri depan pintu gerbang nun pendidikan 
Aku membisu angin semilir membujuk ilmu negeri orang
Berdiri dan menahan lapar karena ilmu”

“Angin sepoii poii menampar aikiku
Angin seminilir membujuk siang ku tidur
Hujan datang membangun tidurku
Hujan datang membangun notasi belajar belajar”

“Hari-Hariku terasa indah dengan ujian ujian hapan 
Setiap lanka kakiku menulusuri lembar bukuku
Setiap harapan tekuk terget harapanku
Jujur aku akan kembali bersama sejuta harapan impianku”


BY, WENEITI YOHANES PETEGE*)




Puisi Bintang 

“Indahnya kau penerangi cakrawalah
Diriku ingin menembus titik titik salahku
Diriku ingin bercerita dengan indanya pelangi bintang
Ijinkan diriku menerangi jiwanku”

Pesona hatiku memandangi lilitang selendangnya
Kedipan iramamu membuatnya diriku merenung
Kedipan matamu membuat diriku salah melangka
Keilirnya membuat dunia getar tak terdiam 

“Sunggu keindahanya membuat insani manusia 
Bersadar diri pada sudut cerita tuhan 
Aku meyakini kau titipan saksi dari Allah 
Aku meyakini kau wujud malaikat berdiam” 

“Kesalutan diriku sunggu kau memana
Kesalutan diriku kau masih menerangi 
Insani yang bernoda ini
Aku hadapi sunggu kau menjadi pelindung dunia”

BY, WENEITI YOHANES PETEGE*)



Puisi Dimana Obat Penyembu

“ Terluka parah sulit mencari obat penyembuh 
Dimana pemilik obat aku masih mencarinya
Dimana kau mendiami dunia 
Dan diamana kau memiliki dunia lain”

“Aku sangat sesali buah jantung tak tertolong 
Entah kemana kau beradah kantung obatku
Di setiap jarum jam seakan aku bedara vakum
Di setiap menit jiwaku memanggil mu”

“Wahay obat penyembuh buah jantung 
Ruang aku terbaring penuh kesakitan 
Aku mengobati sunggu tak serasi obatnya
Kemerahan luka diriku ingin menyembukan”

“Sesosok obat itu belum pula ku dapat
Hukumlah aku jika meman luka itu benar 
Rintangan kegulungan kesakitan tak terbatasi
Luka menuggu sembuh mesti tak bersama pula”

By, weneiti Yohanes Petege *)


Puisi intonasi

 Tangga intonasimu membuat badangku berdiri
Tangga intonasinya membuat diriku menahan seribuh tahun
Setiap intonasi kau membuat dunia tak berdosa 
Setiap nada kau membuat lelaki itu tak tertidur”

“Aliran merdu seakan kau menjubi diriku
Aliran merdu seakan jubiku salah
Benarkha kau artis itu 
Ternyata kau membujuk dunia hilan kemalaman”

 Sunggu aliran intonasimu membuat diriku sulit melangka
Seakan diriku yang bertanya seberapa harga intonasi
Dan sebarapa iliran yang dapat ku bisa dapat 
Namun ternyata suara itu besifat pelingdung 
 Siapa pelindung itu
Siapa binkai alirang itu

Boleh aku berntanya siapa pelindungnya
ijinkan aku melihat binkai alirang suarah mu
 Meskipun aku bukan penlindung sukmamu
Meskipun aku bukan binkai yang kau silipkan

Jikalau menan di binkai insanimu 
Jikalau meman ia pelindung sukma 
Buanglah diriku pada letak yang sulit di jauhkan olehnya

By, Weneity Yohanes Petege*)


Puisi Diriku yang terbuang 

 Wahay kau sukma pribadi..........
Seindah itu kau membuang karena?
Seindah itu aku melayang di telapak dada 
Dan sepucuk tunas kau pun patakan karena dia

Kebuanganku membuat dirinya sunggu berdurasi
Kebuanganku membuat hari-harimu terasa gembilan
Itukah budi bagimu untukku
Itukah nilai etika bagimu untukku

Jujur diriku jajarkan satu bait kata untukmu kau yang terindah
Jujur diriku alurkan jalan bukan kebetulan
Namun kau nyatakan itu kebetulan baginya 
Namun Kau pun katakan padaku dirimu bukan sukmaku

Aku nyatakan doa di saat kau buangku
Tuhan ampunilah kesalahan padanya
Karena ia tak tahu apa yang ia lakukan padaku
Dan ternyata kau di budak olehnya” 
“Maafkan diriku yang terbuang 
Maafkan diriku yang hampa 
Mengapa kau mengesali di waktu ia pergi meninggalnya
Mengapa kau mengakui aku salah maaf kau tidak salah 
Dan maaf diriku bukan bercabang untuk menerimanya ke 2 kali

By, Weneity Yohanes Petege*)


Puisi  Papua Surga yang terlantar 

 Wahay......?
“Surga ku yang terlantar 
Kapankah kau akan sembuh 
Dan kapan pula kau berhenti mengalirkan ketindasan 


Tangisan silih berganti tak puas dirimu
Intimidasi ham dimana-mana terlahir 
Dimana keadilan dan;
Dimana keberannya 

Jujur aku bersuarah pada kau gadis jawa
Kau datang mintidasi lantaran papua 
dan kau berlari menhilang hay kau gadis jawa
Bersuarah jika kau lelaki perkakas hay pengejut 

Bilogai Menangis duka hari ke 17 kau gadis jawa membisu
paniai menagis darah hari ke 8 kau kuburkan dirinya 
Keamanan dimana mata hati papua 
Keamanan dimana pintu keluar massipil 


By, Weneity Yohanes Petege*)

Puisi Kehilangan 

 Hay...../...silam.....
“Hari-hari terasa indah seakan jiwaku memanggilnya
Dengan pemanggilan ini membuat kau layu bagaikan putri malu
Apa yang membuat dirimu gelisah 
Apa yang kau pandangi di belakangan diriku” 

Elok dirinya sulit ku merefisikan
Alur kepolotan mula-mata kian menyepit dan;
Ketika aku menatap dalam dirinya sukma sulit kau kendalikan
Rontakan dadaku menatap sukmamu tumbuh bertunas

Aku menyelidiki sukmanya yang bertunas 
Semata yang berbaris alis kini bergerak 
Alis mata mulai rontakan bahwa 
kau adalah apa yang saya ingin meniggalmu
Tampa pamitan dan menghilangan dengan setunas itu

By, Weneity Yohanes Petege *)
 


Puisi Seluring selam 

“Dihari itu diriku sedang menyair sebuah selaman
Petang kini datang membujuk menyisip atbutku
Sukma sekan menjadi naliru keiluan
Tengah petang melintasi tanah dan terdengar aliran kutipan”

“Kutipan instrumen merosot daung telingahku
Instrumen kutipan hadir bersama jiwa sukma 
Insrumen memanggil dan memkasa diriku melapisi tempak hatiku
Mengapa tembok jiwa sukma lintasi berosot” 
“Sunggu setiap aliran logis menyiksa melangka 
Sunggu diriku tak tertahan lagi bersama penyiksaan
Dengan penyiksaan diriku mengatur alur 

Kedengaran insrumen masih dalam ruang sukma” 
“Dini tiba dirku melanka mencari detak insrumen 
Yang seakan tak ada hambatan redup memanggilku
langka melangka nama selam danampar wajah
Selam yang ku sebut namamu marta 
Menatap insrument itu ternyata rumah buatan jerman 
Datang menjemputkju dengan pengijin olehnya kini 
Kusebut hay pujaan sukma marta”

By. Yohanes W. Petege*)


Puisi Papua Terbaru 

Pemandangan yang indah suasana di benuah papua baru
Mengkagumkanku dengan tatapan yang indah 
Sudut langka ku terpesona papua baru 
Indahnya allam sunggu aku memukau”

Hadirmu membuat semua belarti 
Sebagai bukti perjuangan 
Anak negeri kaki telanjang
Bait rindu seakan berpanduan

Allam semesta menah rinduku
Anak negeri dada kosong 
memangku-mangku tak risau
Papua baru membuka bibir 

Kemanisan senuyuman bagaikan 
duluh aku memandu 
higga sekarang bait geberlang 
Nyata dengan bukanya dua belas senyuman 
Yang bergaur-gaur papua baru

BY: Yohanes W. Petege*)


Puisi Senja di malam hari

Malam ini hujan turun dengan deras
senja begitu cepat menyebar 
Angin berembus dengan begitu cepat 
waktu aku keluar melihat senja telah tiada 

Aku memandangi di langit yang biru 
Terdapat kedua kunang,, yang membuat ku mencilip mata
setelah itu aku memandangi sepasang senaja
senja yang sangat inda seperti,

Seindah buangah taman yang penuh bakau riu
Senja itu lelbih indah daripada sinar bulan,
dan kunang-kunang
Saat aku melenyap pula sinar senja masih dalam pencaran 
dan diriku masih dalam keterangan seidah senja itu

Hari telah pagi 
ku buka pintu dan jendela
Senja itupun telah hilang dan pudar bersama arus cantiknya
Hanya tertinggal bekashi senja dan ilustrasi samutra

BY: Yohanes W. Petege*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maunii (Kapak Batu suku Mee)

Teori Feminisme Rocky Gerung

Tragedi Biak Berdarah Jejak Luka Tak Usai Sembuh dari Bingkai Ibu Pertiwi