aku yang lumpu harapan
AKU YANG LUMPU HARAPAN
( Diriku Yang baru koreksi )
Oleh: Yohanes W. Petege*)
Demikian aku yang lumpu harapan di setiap insani yang dapat ku lalui dengan kehadiran tatapan bersama mu dan kehadiranmu itu membuat diriiku memunculkan banyak pertanyaan yang meski aku menopankan kepada yang aku lumpukan harapan denganmu namun satu hal yang kau pun ingat cinta bukan jatuh bagun dalam harapan yang kamu inisiatifkan tetapi semua munkin hambatan untuk selagi kamu mengapdi di satu palungan untuk bertendeksi bersamaya.
Di setiap aku memandangi selalu mengalir anak sungai sebagai bersifat riwayat yang tidak pasti dalam bentuk identik durasi sehigga semua kadang kala membuat jiwa memangilnya namun semua tidak nyata dengan apa, yang kita dapat memerlukan guna mewujutkan durasi ragaman yang kita senatiasa menguraikan dengan semata yang tidak pasti hay kekasihku uraikan dirimu demikian untuk dia yang ada sewaktu-waktu mu diriku yang lumpu harapan.
“seketika diriku tidak memahami karena adanya dikau hadir dalam hidupku engkau seakan mengoncankan haluan nafasku”
Adapun titik-titik yang saya sulit menguraikan dengan adanya kehadiranmu di saat-saat aku bercondong di waktu itu pula cermin wajahmu menatap diriku tampa balas kasihnya dan di waktu itu pun ada tujuan yang aku ingin melahirkan bersama mu namun persaan dan mulutku terkunci padasaat aku ingin mengasosiasikan bahwa mabi iyai. aku masih mencintaimu meskipun kau sudah memiliki penganting yang bersifat jiwa bermakan ragamu namun semua ku rasakan hanya semata rantai dan diriku selalu memaksa untuk tinggal membisu bersamanya.
Diri yang sulit akan lupa kamu ialah di saat anda melangka selalu terurai di dalam mimpi jejak mu yang kau pernah tinggalkan di tiga tahun lalu yang kini sudah tersilam bersama buah tampa daun dan rantin tetapi vin buat itu membuat diriku harus bangkit dan berdiri bagaikan sebuah tombak yang sulit di cabuk oleh siapapun dia dan itu aku simpan dalam sukma kunci yang aku pun sulit untuk memgambil dan kunci itu pula seakan ingin keluar di saat melihat mu dengan lensaku yang sulit di jankau namun seakan lensaku merosot pada bibirmu yang aku ingin cubitkan padamu hay kau dermaga risauku.
hay jujur aku ingin tempu dirimu”
hay aku ingin memeluk dirimu”
jika meman diriku merasakan bahwa diriku sulit untuk memecahkan sukma mu datangkan diriku untuk aku berparadais bersamamu”
Jangan herang jika lebar kertas ini berbedah karena adanya alasan ku cantumkan kedua warna putih dan unggu mudah ? ? ? ? ? . Warna unggu mudah adalah duluh yang kau perna pupuskan cintaku dan putih lembaran keingin dirimu yang aku cinta.
Kejujuran di saat kau picahkan ia punya nama kebesaran dikau aku sangat memukul mundur namun diriku menahan dan berjalan bersama mu hanya karena vin dirku yang vakum ini meman tidak berwujutdan kekasihmu namun kerisauan dariku jangan kau tepuk persaanku di sebelah tangan jujur titik jenuh sulit ku lepaskan dan putuskan darimu mengapa demikian karena hadiah terindah adanya padanya dan aku terlahir bukan untuk namun itu, tidak . aku ter;ahir untuk mengobati luka kepedihan dari hidup lanjut aku ada sedikit untuk membantu andah menyadarkan vin dari konsekunsi lingkungan sosial yang ku tnaggpai keburukan.
Di waktu aku mencari jejakmu, detak jantungku berdebar. Dan nafasku pun mulai tak teratur. Aku melangkah dalam kesepian. Menelusuri tiap jejak langkahmu. Entah kemana engkau pergi. Aku diam dan sepih meraja lelah dalam ruang-ruang rinduku. Wahaiii... Kau Sang Pujaan hatiku, ku sebut namamu, Harapan Sukmaku yang gagal
Wahaii.. Sang Bidadari, Bunga hatiku, Izinkan aku menuliskan sedikit goresan hatiku di atas lektob ini. Semua tentang kisahku dan kisahmu yang pernah terjadi bersamamu. Saat batinku masih bersih. Saat batinku belum ternodai. Kuingat kaulah pelindung, penjaga dan pemelihara jiwaku. Di saat yang demikian, Kuingat ucapanmu, yang kau lahirkan dari hati nuranimu yang paling dalam. Kau berbisik padaku, magapai petege.
Kau pergi meninggalkankku, dengan alasan Famaly. Yang kuingat, Katamu saat itu, Aku tak mau menodaii cinta putih famaly. Begitu ucapmu padaku, wahai kekasih jiwaku yang pernah merobek hatiku. Yang pernah mengeluarkan sejuta berlumuran dara jiwaku. Kau ukir kisah itu, saat benih cintaku semakin bertumbuh subur. Aku sangat mengasihi dan menyayangimu. Namun, Apalah dayaku. Kau justru meninggalkanku tanpa mengingat diriku yang sedang mengasihi dan mencintaimu seapa adanya. Kaulah wanita idaman hatiku. Kaulah pengegar jiwaku dalam tiap nasib hidupku. Untung dan malang. Kaulah Cintaku (ILove You).
Begitulah nasib hidupku. Ku terus bertanya dalam setiap langkah hidupku. Dalam tiap ruang rinduku padamu. Dalam tiap lika-liku hidupku. Aku terus bertanya. Siapakah dirimu sesungguhnya..? Bagiku, Kaulah bunga jiwa yang kumiliku. Namun, Semuanya itu telah sirnah. Semuanya telah menghilang tanpa meninggalkan sejuta jejak. Setitik jejakpun tidak.
Semuanya telah sirna dari hadapanku. Sirnah. Kau lebih memilih dia karena diriku anggap famaly . Entalah. Apalah pilihanmu itu adalah alasan untuk meninggalkanku dari cinta ini.? Ataukah pilihanmu ini benar-benar lahir dari lubuk hati nuranimu.?
Ataukah Pilihanmu memilih ia yang lebih dewasa ini menjawab harapan dan rindu dari orang tuamu di kampung halaman,Abaimaida? Begitulah sejuta pertanyaan yang sering menggerogotiku dalam tiap ruang diam dalam rinduku. Dengan kepergiaanmu, kau telah melemahkanku. Kau telah mematahkan benih cintamu yang sudah bertumbuh subur dalam diriku. Tanpa ragu, Saat ini, dan dari tempat ini, Kau memang utusan malaikat penghancur, Jahatnya cinta dalam sukmaku. Kau datang dalam harapan yang pasti. Namun semua itu, Kau kau pergi dan tinggalkan harapan yang tak pasti bagi ku untuk ke dua kali lagi bersamamu.
Akhirnya, Inikah yang namanya cinta. Tidak, karena kepergiaanmu, mengajariku bahwa aku harus bangun dari keterpurukanku dan kemurungan hidupku. Cinta dimanakah dirimu? Cinta aku merindukanmu dalam tiap ruang diam dalam rindu yang sepi. I Love You, Cintaku.
*)Penulis adalah Mahasiswa, Kulia di Uncen, Jayapura, Papua.
Komentar
Posting Komentar