Nabire Disaat Curah hujan yang Tak Tertolong
Opinie
NABIRE DI SAAT CURAH HUJAN YANG. TAK TERTOLONG
( Fenomena Bisikan Iplis )
Oleh: Yohanes W. Petege*)
Dalam endapan cura hujan yang begitu ilir, sukmanis telah hadir bersamanya. berjalannya waktu seorang gadis yang di lilitkan oleh curah hujan itu tibah dalam kalbu online, dengan mengemis petolongan pelindung demi menghadang curah iklim yang melintasi mata perpanjangan itu, pelindung hadir bersamanya kemudian ia pun mencoba, terlupa aliran ambisi mengapa? potensi kini terganti dengan ambisi melawan endapan iklim, sesenja ber elok tersyum bagaikan putih bungah anggrek yang rumit seseorang jauhkan, belum pula melihat. lensa terasa sakit waktu kedipan dan senyum itu hadir bersamanya.
Setiap pelosot, si gadis itu hadir bagaikan petir yang menosok ujun timur nabire sampai nabire barat”
Curah hujan terus dan trus menyiksa bungah anggrek yang di puja oleh banyak orang lain itu, berjalan waktu endapan dan, penguapan masih dalam ruang sukma sehigga bercorak riu badang pun pula dapat kerumitan. dalam tak dapat di keterhitungan waktu pendukungan dari anggrek begitu telah tibah “ ia pun berdialog sementara expresi bagaikan bumi yang terselimutih oleh berbagai awan hitam” lanjut baca; (anggrek) si pemandu beronta bicara bagaikan aliran sugai nabire. pelindung diam membisu.
Berjalan pagi sian petang dan malam, sekaligus di dampingi oleh ruang dan waktu anggrek pun mulai diskusi interen secara apsolut. pelindung mulai cakap mengapa harus rintikan bisikan apsolut “ bukan kha pelindung sudah pudar linyup bersama kepihakannya”.
Anggrek berkata “ curah hujan terus memanaskan anatomiku, sehigga alur dialog ku butuh kehadiran kuasa tuhan” pelindung mulai berinjak, dimana sudah hilang jejak. tibah petang ilir kini di sebut pintar berdoa telah ketibaan dari alamat tempat tinggal pada anggrek lalu si pendoa mulai berbincangan bahwa, waktu telah tibah dapat anggrek mengasu pokok hidup dengan kesisahan waktu dan hari.
Anggrek mulai meneteskan air yang tak di jual oleh orang. “ lalu anggrek berkata bagaimana dengan potensilitas, malu jika aku melihat tawanku ke lantaran belum pula meliahat teman dan saudara bercanda” anggrek usai berbincang mulai mengalir air mata kesedihan melampui sebungkus bibir manis itu” Pelindung mulai bercondong lalu menyakdar seorang diri “ renungan,. aku bisa membantu cura hujan bukan akhir dari pada kesimpulan hidup”.
Pelindung mulai merancang rasio menangki rasio sukmanis, tak lama kemudian pelindung mulai siap keberangkatan tujuan penghakhiran. bahwa iklim expoloitasi ganguan seseeorang bisa di ukur dengan nilai retorika bersama hak cipta manusia, komitmen terlahir dari rasio dan sukma. kemudian anggrek mulai beronda bersama pelindung kemana pelindung pun tak di ketahui, anggrek mulai berbicara dalam ruang pipinya pun mulai membenkak dengan cucuran aliran air mata”.
Pelindung mulai menjawab dengan suarah kesedihan bahwa ketahuilah maka tuhan telah mendegarkan kata hati bersama bungkusan air mata menjadi pundi dalam nilai agape oleh tuhan. anggrek mulai tersenyum lalu ia memeluk pelukan kesedihan melilit kepesonaankepada pelindung dan, kemudian dia berkata bahwa aku bercaya dari perkataan aku mulai terbagkit sedikit demi sedikit dengan adanya kehadiran bincagan sebab tuhan telah tuntun alur lika likuku “ terimakasih peindung”
( MK ) mulai bersurah pelindung siapkan menjadi bintang kekasih dalam perpanjang tuhan “ pelindung itu merundak lalu menjawab ketahuilah siapa kha aku ini yang sebenarnya? anggrek menjawab aku sudah mengehui siapa dirimu yang sebenarnya.
Berjalan waktu kerunjukan mulai bunyi dan, cura hujan itupun mulai ketimbulan dalam ruang anggrek.
Anggrek yang sementara bergairah itu surah mulai mengecil bagaikan angin kutikan melodi di malam tampa bintang, anggrek mulai berlahan bergeser di dampingan oleh pelindung pelindung telah di menyiapi berbagai atribut hukum ilahi lalu subjek dan opjek mulai berkata secara surah yang seru kepada hak kebebasan yakni tuhan, m,-aggrek mulai bersurah dengan iklim yang faktualis, kemudian rasio mulai ketimbulan secara saksama dan menata.
tercipta aksio idea bahwa anggrek kini menyebut namaku Petey,
ia pun berkomitmen bahwa hanya laut pasifik yang kiranya tampurkan mata rantaiku “komitment menulusiru allam”
Disaat ku menyairkan dan meletakan lengan jarinya di atas papan mesin perna ku merunduk bukan karena mengapa namun hanya ada mengapa ilusi moment komintment itu berat, dan rasio pun mulai hilan kevakuman.jangan lupa isi vakum dengan senyum “ kau yang kini dan akan ku sebut namamu “MLK”
Bersyukurlah kepada Tuhan atas Penyembuhan dari “ Curah Hujuan”
Salam Penulis “Busur Kecil”
)* Penulis Adalah Mahasiswa Semester III Pada “UNCEN” Jayapura Papua
Komentar
Posting Komentar