MENCARI SOLUSI DENGAN BUDAYA MEE DAN BUDAYA FILOSOFI MEE

Mencari solusi dengan budaya Mee dan Budaya filosofia Mee
         Solusi adalah Budaya

Oleh: Yohanes W. Petege*)
 
A. Rangkuman Filsafat Mee ?
Manusia Mee atau yang biasa di sebut dengan nama latin Mee adalah suku Mee (Ekarry). dari pandangan social (EKARRY) merupakan suku yang pemakan Manusia, “ namun Penulis mengkat karena harkat dan, marhbat suku Mee maka manusia yang bernaung di pulau Papua lebih khususnya suku (Ekarry) bukan Manusia pecan manusia lainnya. 

Melainkan Suku Mee merupakan sebuah suku mee yang mendiami sebuah pulau Papua bagian utara kemudian. Manusia Papua menciptakan oleh Tuhan dengan defisini jatidiri Allah yaitu Ciptaan atas secitra, Segambar, Serupa, Semiripan Keserasiaan dengan Allah Sendiri itu mutlak yang tidak bisa di gugat oleh siapa pun dia. 

Definisi Kekayaan Besar yang suku Mee menghakekatkan ialah“ Kasih” megapa suku Mee Penuh kaya akan kasih karena Kasih di bentukdan di anugrahkan dari Tuhan kepada suku Mee. dari lahir Hingga, sampai dunia ia kiamat yang “ yang di sebut dengan kematian “ pada dasar kehidupan Manusia hanya dapat terpatokan dengan“HukumTuhan” menurut bahasa latin Mee “Iboo Kidaa Manaa Kamu gatii” atau dapat penulis mengistilakan Takutakan Tuhan, itu adalah Nilai Dasar yang manusia “Mee” mempedomankan di setiap langka dan, lika liku kehidupan dari dahulu Tete Nene Moyang hingga sampai, sekarang di masa Orde Modern.

Maka dalam kontek ini sebuah identic baru yang akan mengacu untuk mengetahui nilai-nilai moral Suku Mee ialah sebagai berikut; hal yang pertama merupakan Memandangi, Melihat, menurut latin Mee adalah“ Douu” Berfikir, refleksi“ gaii “ Bertindak dengan nilai kepercayaan diri, Berbuat dengan Baik“ Ekoway”.

Dalam ringkasan ini.Penulis akan mengulas tentang pentinnya Nilai-Nilai moral Hidup Manusia pada kontek dasar Suku Mee. yang Pertama dengan pengulasan pentingnya untuk menginklusif melihat;
Melihat Latin Mee “ Douu” dalam kontek ini penulis akan mengulas memiliki nilai moral hidup dengan melihat supaya tidak ketindakan yang kurang inklusif kita. Suku Mee Membudayakan dalam proses kehidupan dengan anugrah iman Tuhan yakni Douu Sesuatu definisi dalam hal pelaksanaan unsure buah pertama meski orang melihat apa yang mereka ingin melakukan baik itu dengan hukum fisik maupun mentalis, mengapa karena hal itu ada pada manusia Mee karena filsafat budaya mee menunjukan bahwa melihat adalah sesuatu yang aklak kebersamaan dengan ciptakan Tuhan sebab budaya melihat tetap dan telah bertumbuh pada diri seseorang yakni manusia pada kontek suku Mee.

Kultural suku mee pada kontek “Melihat” sangat mengsalutkan dan tertarik dengan dasar kualitas yang tinggi untuk menjujun tinggi pentingnya “Melihat” lalu melaksanakan sesuatu aktivitas, karena tampa melihat kemudian. kita bertindak itu sama hal dengan orang buta berjalan di atas lumpur. sebab dengan unsure tujuan melihat ini dari filofia manusia Suku Mee mengundang untuk kita supaya belajar bagaimana manusia itu melihat yang sebenarnya dengan kesaksamaan. sebelum bertindak  sealnjutnya baca pula; guna konsisten itu tetap pada posisi yang aktualitas Manusia.
Lanjut, kita masuk dengan ulasan tentang “berfikir” dalam bahasa latin Mee “Gaii ” Manusia Mee pada umumnya sesudah melihat metode berikutnya akan alikan dengan praktinisme untuk esensi daripada definisi melihat unutk menuju pada ambisi yang telah di pedomanankan dalam pekspektifnya manusia Mee.
 
Berfikir Filosofis adalah berfikir untuk memahami hakekat dari kenyataan dalam rangka benemukan kebenaran sejati. sementara berpikir ilmiah adalah berfikir yang mengunakan dengan hasil penelitian sebagai acuan, maka pada berpikir filosofia sang pemikir tidak berpikir lagi tergantung pada hasil ilmiah.

Manusia pada umumnya dan lebih khususnya orang Suku Mee sudah mengenal filsafat dalam hal sebagai pedoman esensialisme kebutuhan hidup dan selanjutnya di bidang ilmu pengetahuan bahkan sosial, politik namun ketelataran tunas filsof Mee dalam jangka waktu yang pendek dapat terputus oleh sebab dan akibat dari lingungan sosial bahkan perkembangan tekonologi namun, barisan revolusi iptek tidak tertarik kaitan dengan kehidupan untuk meloyalitaskan hidup dan menentukan nasip yang di persembunyikan oleh sekelompok konspirator dengan memiliki inisiatif yang militan dengan demikian. dalam kejelasan coretan tinta tulisan ini, penulis mengajak supaya budaya orang Mee. tidak tenggelam lantaran pesatnya sosial dan industri lainya kapitalisme. pekspektif saya sebagai penulis jika manusia optimis dalam filosofia Mee yakni (Melihat, Berpikir, Bertindak. dalam retorika Latin Mee di artikan sebagai Douu, Gaii, Ekowaii).

Ijinkan Penulis untuk mengutip tulisan yang di luncurkan dalam bukunya Pengatar kedalam Manusia Mee. dalam buku Manusia Mee seorang Pemudah Asli Papua telah mempaparkan dengan detail sekaligus ilir padatnya bahwa ; 
Anikii Mee (saya Manusia) saya manusia belarti saya bukang Binatang. saya bukan binatang adalah saya memiliki “Dimi” “Gaii” “Kegepaa” dan, “Aya” Mee memiliki kemampuan untuk berpikir dan merasa berkereasi dan berkehendak. Kita berusaha merefleksikan manusia Mee dalam kontek perjalanan awal, kini dan akhir. marilah kita kembali ke diri kita sejak dari kesibukan dan, tugas yang membahwa kita keluar jauh dari dalam diri kita, yang mengenaliskandan mengasingkan. (2018: Goo. hal: 1.)

Manusia atau Orang Mee memiliki aksiologis dan logisitis yang militan dalam pengembagan diri dan sosial bahkan pengetahuan yang mencakup konseptual yakni pendidikan, budaya, politik, dll. dengan responsif namun, dikala manusia lamah menelan buana dengan sarana dan prasana pesatnya teknologi dan pengetahuan sehigga, kami Manusia Mee yang memiliki identitas filosofia terkenjam nelan oleh berbagai faktor, salah faktornya adalah Kami anak rel generasih tidak mendapatkan budaya (cultural)  yang historis kemudian selanjutnya percakapan diantara anak-anak Mee bersama para orang tua dapat menelan historis seketika berbicara, jika kita melihat dengan logistik bebicara dan, mencuri sejarah Suku Mee tidak menjadi tolak ukur dari aspek umur pertumbuhan anak. 


Orang Suku Mee di belakangan retro mengadung atau menyimpan buana pengetahuan primer dan sekunder dengan aspek berambisi memiliki historis yang aktual dan, harus perlunya di wariskan kepada anaknya atau rel generasih selanjutnya. Independence terbentuk bukan hanya via politik, pendidikan, agama, “tidak” melainkan Budaya historis, mengapa demikian karena budaya adalah kesatuan alur yang tersembunyi untuk menuju pada independen maka menfasilitasikan selagi anak Suku Mee meminta Historis karena perkspektifnya sejarah budaya dan sejarah materialisme lainnya menjadi jalan kebenaran untuk merombak obak yang sedang di kaprah kaum atau Orang Berkulit hitam.
Konsep pokok dalam tulisan ini adalah bukan untuk penulis mengupas kejelasan filosofia Mee. namun, bagaimana menanamkan identitas (cultural) budaya mee dengan hakekat suku mee diantaranya DOUU, GAII, EKOWAI. dapat di artiakan sebagai MELIAHAT, BERFIKIR, BERTINDAK.  untuk menuju pada tujuan. 
Pada saat saya dan anda belajar budaya (culturalistik) Suku Mee dalam menunjan pada penetuan ambisinisme. saya dan anda dahulu kala di ajarkan oleh Bapak dan Ibu Guru di sekolah untuk menghafal Nama-nama Pahlawan, Ideologi Negara, UUD 1945, Sumpa Pemuda, Sejarah Indonesai dengan keterhitungan sejumalah nilai Mayoritas penduduk asli Indonesai. Seorang guru benar. benar karena hak dan kewajiban yang menuntut untuk menfasilitasi anak didik di sekolah, Seorang GURU adalah Pahlawan Tampa Tanda Jasa yang di singkat menjadi (PTTJ) akan ku kenan. 

Kembalinya; kita mengajak pada kontek bahwa saya dan anda sedang di bungkam secara fisikologis oleh bangsa Klonial Indonesai baik itu secara materi, praktis, batia. sehigga, saya dan anda terlupa rhas budaya bangsa melainesia terlebih khusunya orang Mee. dengan adanya kontak dingin maka hal ini menjadi refleksi bagi setiap marganisme, keluarganisme, kampungnisme, untuk inklusifkan bangkitkan militgankan bagian sepangkal dari pada saya dan anda yang telah di terlumpuhkan oleh historis orang lainnya. 
B. Menjadi Orang Mee yang sesunggunya dan, otentisitas diri ?
Dalam bukunya Beliau Markus Goo telah menuliskan tentang penerangan Manusia MEE. anak negeri yang sudah lamah melalan buana. pergi jauh dari diri. ketidak hadiran dalam dirinya kekaburan, namun, kita telah kembalinya kita telah sedar akan diri kita dengan kesatuan negeri (Alam Warisan Leluhur) Persisnya dari Papua dan dusungnya masing-masing, berdasarkan ikatan darah keluarga. kekuatan ini terkabur dengan adnaya (kedatangan imikran), sekaligus, memecah belah dengan membelah keluarga sekaligus dengan mengabil leluhur. 

Orang Papua melang oleh ruang dan waktu hanya karena gaya hidup, dan kebutuhan hidup, bahkan opsi politik. sehigga, sendu rasanya identitas saya dan anda berkilam kilabui oleh kedatangan bangsa ( imikran) dan, aktoritas sangat mendiam kelahan mati dari diriku dan dirimu. alam dan leluhur papua secara belit komonikasih antara Orang Asli Papua (OAP) dan Imikran semakin hari semakin meningkat akhirnya diriku kehilangan budaya dan retrokresif yang perkspektifnya sangat mustahil bagi orang Papua. istigmen yang akan berdiam diri dalam potensial Manusia PAPUA ialah tidak menyadari bahwa saham pemusnahan has, jendel, etnis, menuju kepunahan sebab kehingan cerita rakyat dan historis PAPUA. 

Adapun Kesimpulan dan saran yang penulis akan mengabil dari setiap ana kalimat di atas bahwa: 
Kesimpulan 
Apa yang saya punya untuk menuju dalam plestarian budaya sejara suku Mee dan Papua. 
Bagaimana saya militankan opsi filosofia Mee supaya orang lain tidak tertiju atau mencuri kekayaan baik sengaja maupun tidak sengaja. 
saya dan anda tidak memiliki imbisi yang besar untuk kepunahan identias Suku Mee dan, Papua maka saya anda kita menjagak untuk saling optimis di setiap alur aspektivitas karena optimis yang akan dapat melawan berbagai aktor yang datang sili berganti baik itu eksternal maupun internal. 
Saran 
kelemahan orang asli papua (OAP) dan, suku Mee ialah tidak optimis melulu menerima negosiasi orang sekalipun itu menjadi aktor dirinya. 

*) Penulis Adalah Mahasiswa Papua Pada UNCEN Jayapura Papua. 

Editor: admin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maunii (Kapak Batu suku Mee)

Teori Feminisme Rocky Gerung

Tragedi Biak Berdarah Jejak Luka Tak Usai Sembuh dari Bingkai Ibu Pertiwi